Cinta Yang Kuterjemahkan Dalam Luka

**Hujan di Jendela Waktu** Gerimis menggigil membasahi jendela kaca, persis seperti hatiku saat pertama kali melihatnya lagi. Xiao Mei. Bayangan wajahnya, dulu secerah lentera musim semi, kini remang-remang diterangi cahaya lampu jalan yang redup. Ia berdiri di seberang jalan, siluet rapuh di bawah naungan pohon maple yang daunnya berguguran. Lima tahun. Lima tahun lamanya aku memendam serpihan kaca yang ia tinggalkan di dadaku. Dulu, kami saling menerjemahkan cinta dalam bahasa yang hanya kami pahami. Sentuhan lembut, bisikan rahasia di bawah bintang-bintang Sungai Kuning, janji sehidup semati yang terukir di batang bambu tua. Semua itu, kemudian, hancur berkeping-keping saat aku menemukannya bersama ***DIA***. Pengkhianatan. Kata itu seperti duri yang terus menusuk relung jiwaku. Aku memilih pergi, meninggalkan kota kelahiran, meninggalkan semua mimpi yang kami rajut bersama. Aku membangun benteng es di sekeliling hatiku, berusaha melupakan senyumnya yang memabukkan, tatapannya yang meneduhkan. Tapi sia-sia. Bayangannya selalu hadir, dalam setiap tetes hujan, dalam setiap hembusan angin malam. Sekarang, ia kembali. Atau mungkin, aku yang kembali padanya? Ironis. Setiap kali matanya bertemu mataku, aku merasakan sensasi yang aneh. Bukan hanya sakit, bukan hanya amarah, tapi juga… *PENASARAN*. Ada sesuatu yang disembunyikannya, sesuatu yang berkilau kelam di balik sorot matanya yang teduh. Dulu, aku mengenalnya seperti telapak tanganku sendiri. Sekarang, ia bagaikan labirin yang gelap dan menyesatkan. Beberapa malam terakhir, aku mengamatinya dari kejauhan. Ia sering mengunjungi sebuah kedai teh tua di ujung kota, tempat kami dulu sering bertemu. Ia selalu duduk di meja yang sama, memandangi cangkir teh yang mengepul, seolah berbicara pada bayangannya sendiri. Suatu malam, aku melihatnya berbicara dengan seorang pria berpakaian serba hitam. Wajahnya tidak terlihat, tapi aura misteriusnya membuatku merinding. Mereka berbicara dengan suara rendah, sesekali menoleh ke arahku. Hatiku berdebar kencang. Perasaan *tidak enak* mulai menghantuiku. Malam ini, hujan semakin deras. Aku memutuskan untuk mengikutinya. Ia berjalan menembus kerumunan orang, menyusuri gang-gang sempit yang gelap dan lembap. Akhirnya, ia berhenti di depan sebuah gudang tua. Di sana, di bawah cahaya rembulan yang tersamar awan, aku melihatnya. Xiao Mei. Ia berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh puluhan orang berpakaian serba hitam. Di tangannya, ia memegang sebilah belati yang berkilauan. Tatapannya dingin, penuh perhitungan. Ia tersenyum sinis. Semua yang selama ini kupikirkan tentang dirinya, semua yang kurasakan, semua *SALAH!* Lalu, ia berbisik, suaranya tajam seperti es yang retak, "Sudah lama sekali aku menunggu saat ini, *Kakak*." Dan di sanalah, di tengah badai emosi yang membuncah, kebenaran yang mengerikan itu akhirnya terungkap: Xiao Mei, selama ini, diam-diam merencanakan balas dendam… atas kematian Ayah kami, yang selama ini kupikir disebabkan oleh sebuah kecelakaan.
You Might Also Like: Panduan Skincare Lokal Dengan

OlderNewest

Post a Comment