Kau Datang dengan Sepeda Tua, Tapi Membuat Jantungku Berpacu Lebih Cepat
Angin berhembus lembut di antara pepohonan sakura yang mulai meranggas. Aroma teh melati memenuhi udara, seolah mencoba menyembunyikan bau pengkhianatan yang mengental. Di beranda rumah kayu tua ini, aku dan Lan, tumbuh bersama. Bukan saudara sedarah, bukan pula kekasih, tapi ikatan kami lebih rumit dari akar pohon beringin yang menjalar. Kami adalah... sekutu.
"Lan," sapaku, suara rendah, "Kau ingat sepeda tua itu? Yang berderit setiap kali kau mengayuhnya?"
Lan menyesap tehnya perlahan, matanya menyipit. Senyumnya, selalu misterius, kini terasa dingin. "Tentu. Itu sepeda kakekmu. Kau selalu iri padaku karena bisa menggunakannya."
Dulu, aku menganggapnya candaan. Sekarang, kata-katanya terasa seperti tusukan jarum. Sejak awal, ada jurang yang tersembunyi di antara kami. Jurang yang dibangun oleh RAHASIA.
Kami dibesarkan di kota kecil ini, dijaga oleh keluarga Li yang terhormat. Keluarga yang menyimpan lebih banyak dosa daripada koin emas di brankas mereka. Lan, anak yatim piatu yang diangkat anak oleh keluarga Li. Aku, cucu satu-satunya pewaris takhta.
"Kakek memberiku sepeda itu karena dia tahu kau tidak pantas mendapatkannya," lanjut Lan, matanya menantang. "Kau terlalu lemah, Xia."
"Lemah katamu?" Aku tertawa hambar. "Atau kau takut aku tahu kebenaran tentang siapa dirimu sebenarnya, Lan?"
Permainan dimulai. Setiap tatapan, setiap kata, adalah senjata yang diasah tajam. Aku tahu, dia menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan kematian orang tuaku. Kecelakaan tragis, begitu kata mereka. Tapi aku tidak percaya. Aku merasakan aroma kebohongan yang menyengat.
Malam demi malam, aku menyelidiki. Aku menggali masa lalu, mencari petunjuk di antara debu dan reruntuhan. Akhirnya, aku menemukannya. Surat wasiat kakek. Surat yang disembunyikan dengan cermat. Surat yang menyatakan bahwa Lan bukanlah anak yatim piatu biasa. Dia adalah...
"Putra selingkuhan kakek," bisikku, suara tercekat. "Kau anak haram keluarga Li, Lan!"
Wajah Lan tidak bergeming. Dia hanya tersenyum lebih lebar. "Kau sudah tahu, rupanya. Tapi kau terlambat, Xia. Keluarga Li sudah menjadi milikku."
Pengkhianatan ini terlalu dalam. Darahku mendidih. Semua yang aku yakini hancur berkeping-keping. Selama ini, aku mempercayai seorang musuh yang menyamar sebagai sahabat.
BALAS DENDAM adalah satu-satunya jalan.
Pertarungan kami terjadi di tengah hujan badai. Petir menyambar, menerangi wajah kami yang penuh kebencian. Pedang beradu, menciptakan simfoni kematian. Aku melawan dengan segenap kekuatan, didorong oleh amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan.
Di saat-saat terakhirnya, Lan berbisik, "Kau tidak akan pernah menang, Xia. Keluarga Li akan selalu menjadi milikku."
Aku menusuknya dengan pedangku. Matanya membulat karena terkejut. Dia jatuh ke tanah, napasnya tersengal-sengal.
Saat dia menghembuskan napas terakhirnya, dia berkata, dengan suara yang hampir tidak terdengar, "Maafkan... aku... adikku..."
Dunia berputar. Kata-kata terakhirnya menghantamku seperti palu godam. Adikkah? Apakah selama ini aku melawan saudaraku sendiri? Kebenaran ini terlalu pahit untuk ditelan.
Aku berlutut di samping mayat Lan, air mata bercampur dengan air hujan. Aku telah membalaskan dendam, tapi aku juga telah kehilangan segalanya.
Udara terasa dingin, sepi, dan membunuh.
"Mungkin, di kehidupan lain, kita bisa menjadi keluarga yang sebenarnya..."
You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif
Post a Comment