Baiklah, inilah kisah Dracin tragis dengan judul 'Aku Menulis Doa, Tapi Tuhan Sudah Memihakmu': **Aku Menulis Doa, Tapi Tuhan Sudah Memihakmu** Langit Jinjiang senja itu memerah, serupa darah yang tumpah diam-diam. Aku, Lan Xinyi, berdiri di balkon Paviliun Anggrek, memandang siluet gunung yang membisu. Di tanganku tergenggam kuas dan kertas beras yang basah oleh air mata. Aku menulis doa. Doa untuk kebahagiaanmu, Qin Yue. Ironis, bukan? Aku menulis doa untuk pria yang *mungkin* merenggut segalanya dariku. Kita tumbuh bersama, Qin Yue. Di bawah pohon *wisteria* yang sama, kau dan aku berjanji akan saling melindungi. Kita bersumpah setia pada persaudaraan, mengikat janji suci di kuil leluhur. Tapi sumpah itu kini terasa seperti jerat yang mencekik leherku. "Xinyi," Suara baritonmu memecah kesunyian. Kau berdiri di ambang pintu, senyummu setenang air danau yang menipu. "Kau sedang apa?" "Menulis doa," jawabku, tanpa menatapmu. "Untukmu." "Untukku?" Alismu terangkat, pura-pura terkejut. "Kenapa?" "Karena kau akan menikahi Putri Lianhua besok," ujarku, mencibir dalam hati. Pernikahan politik. Pernikahan yang akan mengukuhkan kekuasaanmu. Pernikahan yang akan menghancurkanku. "Kau sepertinya tidak bahagia," katamu, melangkah mendekat. Aroma *sandalwood* yang kau pakai menusuk hidungku, mengingatkanku pada malam-malam kita berlatih pedang bersama. "Apa ada yang salah?" "Tidak ada," sahutku dingin. "Aku hanya khawatir... tentang beban yang akan kau pikul." Kau tertawa pelan. "Kau terlalu khawatir. Aku kuat. Aku *bisa* mengatasi segalanya." Aku tahu kau kuat, Qin Yue. Terlalu kuat. Itulah masalahnya. Misteri itu perlahan terkuak selama bertahun-tahun. Bisikan-bisikan di istana, surat-surat rahasia yang kucuri pandang, petunjuk-petunjuk samar yang tertinggal di jejakmu. Semuanya mengarah pada satu kesimpulan mengerikan: kau *bersekongkol* dengan musuh untuk menjatuhkan keluargaku. Keluargaku yang mengangkatmu, Qin Yue. Keluargaku yang memperlakukanmu seperti saudara. Kau mengkhianati kami. Tapi kenapa? Aku terus menulis doa, berharap ada secercah kebenaran yang terungkap. Aku mencari alasan, pembenaran, apa pun yang bisa meringankan beban di hatiku. Tapi yang kutemukan hanyalah kekosongan. Malam pernikahanmu tiba. Istana bersinar terang, penuh dengan tawa dan musik. Tapi bagiku, itu adalah malam *penghakiman*. Aku berdiri di antara kerumunan, menyaksikanmu bersanding dengan Putri Lianhua. Senyummu bersinar, begitu palsu dan dingin. Saat itulah aku melihatnya. Di balik senyummu, ada secercah bayangan. Bayangan rasa bersalah. Aku tahu. Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rahasia besar itu akhirnya terungkap. Kau tidak mengkhianati kami demi kekuasaan. Kau melakukannya demi melindungi kami. Keluargaku berada dalam bahaya, ancaman yang lebih besar dari yang kami bayangkan. Dan kau, dalam diam, memilih untuk mengorbankan dirimu sendiri, bermain sebagai pengkhianat agar kami selamat. Ironisnya, tindakanmu justru menyakiti kami lebih dalam. Malam itu, aku memutuskan. Balas dendam adalah satu-satunya jalan keluar. Bukan balas dendam pada musuh yang sebenarnya, tapi balas dendam padamu. Karena kau telah merenggut pilihanku. Kau telah merenggut kesempatan untuk berjuang bersamamu. Aku menyusup ke kamarmu, pisau tersembunyi di balik lengan bajuku. Kau tidak terkejut melihatku. Kau bahkan tersenyum. "Aku tahu kau akan datang," katamu, suaramu lirih. "Kau tahu?" tanyaku, gemetar karena amarah dan kesedihan. "Lalu kenapa kau membiarkanku?" "Karena ini adalah satu-satunya cara," jawabmu. "Agar kau bisa membuktikan kesetiaanmu. Agar kau bisa *melindungi* mereka." Aku tidak percaya padamu. Aku tidak ingin percaya padamu. Aku mengangkat pisauku. "Maafkan aku, Xinyi," bisikmu. "Tapi aku tidak punya pilihan lain." Aku menusukmu. Saat darah mengalir dari lukamu, kau tersenyum. Senyum *sejati*. "Jaga mereka," bisikmu, sebelum matamu terpejam selamanya. Aku jatuh berlutut di sampingmu, tangisanku memecah kesunyian malam. Kebenaran itu memukulku seperti palu godam. Aku telah membunuh pria yang kucintai, pria yang rela berkorban demi aku dan keluargaku. Aku telah membunuh *pahlawanku*. Dan sekarang, di sini, di samping mayatmu, aku mengerti. Doaku tidak pernah sampai. Tuhan sudah memihakmu sejak awal. Sebelum kegelapan menelanku, aku berbisik, "Aku tidak akan pernah memaafkanmu... karena membuatku mencintaimu **SEBEGINI DALAM**."
You Might Also Like: Manfaat Pelembab Lokal Untuk Kulit
Post a Comment