Aula Emas Istana Kekaisaran Zheng, tempat di mana cahaya matahari yang masuk melalui jendela berukir naga, memantul liar di lantai marmer yang dipoles. Udara di sini terasa berat, bukan hanya karena aroma dupa cendana yang pekat, tapi juga karena aroma persaingan dan ketakutan. Para pejabat berdiri tegak, wajah mereka tanpa ekspresi, namun mata mereka MENUSUK, mencari kelemahan satu sama lain. Di balik tirai sutra berwarna giok, bisikan pengkhianatan merayap seperti ular berbisa, siap untuk menggigit kapan saja.
Di tengah pusaran intrik ini, berdiri Putri Lian, putri kesayangan Kaisar, seorang wanita dengan kecantikan yang mempesona dan kecerdasan yang MENGEJUTKAN. Di sampingnya, Pangeran Rui, pewaris takhta, seorang pria yang dipuja dan ditakuti sekaligus. Cinta mereka adalah rahasia yang terjaga, sebuah permainan berbahaya di atas papan catur politik. Setiap janji manis, setiap sentuhan lembut, bisa jadi adalah pedang yang siap menikam.
"Lian, cintaku padamu abadi," bisik Rui suatu malam, di taman istana yang diterangi bulan. Lian menatap matanya, mencari kebenaran. "Namun, takhta juga menuntut kesetiaan. Bisakah kau memilihku di atas segalanya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat seperti mahkota kekaisaran. Lian tahu, memilih Rui berarti MENENTANG ayahnya, Kaisar yang kejam dan licik. Tapi, menolaknya berarti menghancurkan hatinya sendiri. Cinta mereka adalah permainan takhta yang paling berbahaya, di mana satu langkah salah bisa berakibat fatal.
Bertahun-tahun berlalu. Rui naik takhta, menjadi Kaisar Zheng yang baru. Lian, sebagai Permaisuri, mendampinginya, menjadi bayangan yang setia. Namun, di balik senyumannya yang anggun, Lian menyimpan luka yang dalam. Ia tahu, cinta Rui pada kekuasaan lebih besar dari cintanya padanya. Ia telah dikhianati, dijadikan pion dalam permainannya sendiri.
Waktunya untuk membalas dendam telah tiba.
Pada malam festival lentera, saat langit dipenuhi kembang api yang memekakkan telinga, Lian bergerak. Ia meracuni teh Kaisar Rui dengan racun yang tak terdeteksi, racun yang akan membuatnya menderita perlahan, namun pasti. Tatapannya dingin saat melihat Rui terhuyung, memegangi dadanya.
"Kau... kau," desis Rui, dengan napas tersengal.
Lian tersenyum tipis. "Cinta memang buta, Yang Mulia. Tapi kebencian melihat dengan sangat jelas."
Rui jatuh ke lantai, tubuhnya kejang-kejang di antara cahaya lentera yang berkedip-kedip. Lian berlutut di sampingnya, menyeka darah dari bibirnya. "Kau mengira aku lemah, Rui. Kau mengira aku hanyalah hiasan di istanamu. Kau salah."
Dengan anggun, ia bangkit, meninggalkan tubuh Rui tergeletak di sana. Ia melangkah keluar dari aula, menuju malam yang gelap dan sunyi. Para penjaga menatapnya dengan bingung, tak ada yang berani menghentikannya.
Di kejauhan, ia mendengar suara teriakan dan kebingungan. Tapi Lian tidak peduli. Ia telah mendapatkan balas dendamnya. Ia telah membuktikan bahwa bahkan bayangan pun bisa membunuh.
Angin malam berhembus, membawa aroma asap dan kematian.
Dan sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri.
You Might Also Like: 107 Review Sunscreen Mineral Dengan
Post a Comment