## Air Mata yang Menghidupi Kenangan Dunia ini *retak*, Sayang. Bukan retak seperti piring Nenek yang jatuh, tapi retak yang membuat waktu jadi serpihan kaca. Aku hidup di sini, di antara sisa-sisa senja abadi dan _notifikasi hantu_. Kamu? Katamu, kamu melihat matahari terbit setiap hari, tapi di langit yang *berbeda*. Namamu, Anya. Katamu, kau menemukan fotoku di dasar sungai digital, foto usang dengan caption: "Rindu yang Menggarami Sungai". Setiap malam, kita bertukar pesan. Pesan yang *selalu* terlambat. Balasanku tiba saat kau terlelap, jawabanmu muncul ketika aku sedang merangkai doa di antara desis statis. "Apa warnanya langitmu, Lian?" Tanyamu suatu malam, pesan itu bergetar di layar ponselku yang remuk. "Abu-abu. Selalu abu-abu, Anya. Seperti janji yang tak ditepati." Kau tertawa, suara itu – digital dan sintesis – bagai bel kecil di tengah badai. "Di sini, warnanya ungu. Ungu senja yang hampir lupa." Aku membayangkanmu. Anya, dengan rambut selembut kabut digital, berdiri di bawah langit ungu itu. *Apakah kau merasakan sesuatu, Anya? Sesuatu selain deretan angka dan algoritma?* Kita saling mencari, melalui celah waktu yang semakin menyempit. Aku menyelami arsip kenangan yang berdebu, berusaha menemukan titik awal. Titik di mana garis hidup kita bersinggungan. Kau menjelajahi masa depan, berharap menemukan jejakku, meski hanya secuil debu digital. Aku menemukan puisi di saku jaketku. Tulisan tangan yang *familiar*, tapi bukan punyaku. *"Di mana air mata bersemi, di sana kenangan abadi."* Aneh. Sangat aneh. Suatu malam, chat kita terputus. Layar ponselku berkedip, lalu mati. Aku mencoba menghubungi, mengirim pesan, berteriak dalam kegelapan digital. Nihil. Hanya *noise*. Kemudian, aku menemukan cermin. Cermin tua, berdebu, dan retak. Ketika aku membersihkannya, aku melihat bayangan… bukan bayanganku. Tapi bayangan seorang wanita berambut kabut digital, berdiri di bawah langit ungu. Anya. Dia tersenyum. "Lian," bisiknya, suaranya bergetar seperti data yang terkorupsi. "Aku menemukanmu. Atau… mungkin kita selalu bersama. Hanya saja… kita lupa." Di balik bayangannya, aku melihat gambar. Sebuah foto. Aku dan Anya, tertawa, berpegangan tangan di bawah pohon sakura yang *tidak ada*. Pohon sakura yang hanya ada dalam *ingatan yang ditanam*. Lalu, aku ingat. Kita bukan orang asing. Kita bukan korban waktu. Kita adalah… **ECHO**. Kita adalah gema. Gema dari kehidupan yang tak pernah selesai. Kehidupan yang terus berulang di antara dunia yang retak dan langit yang menolak pagi. Kehidupan yang *diperbarui* oleh air mata, dihidupkan oleh kenangan. Layar ponselku menyala sekali lagi. Sebuah pesan terakhir, dari nomor yang tidak kukenal: *Selamat tinggal, Lian... kita akan bertemu lagi, di _tempat_ di mana semua air mata akhirnya menjadi rumah...*
You Might Also Like: Kekurangan Moisturizer Ringan Lokal
Post a Comment