**Rahasia yang Menjadi Legenda** Di puncak Gunung Seribu Awan, berdirilah Pagoda Bulan yang bisu. Di sanalah legenda itu terukir, legenda tentang cinta terlarang dan ambisi yang membakar hati. Aku, Mei Hua, putri dari seorang tabib desa, dan dia, Jenderal Zhao Yun, pahlawan yang digilai seluruh kekaisaran. Kami bertemu di bawah pohon sakura yang mekar, aroma manisnya menutupi bau darah dan peperangan yang selalu menempel di tubuhnya. Matanya, setajam pedang, melembut saat menatapku. Kami berjanji, di bawah rembulan yang sama, bahwa cintaku akan menjadi pelabuhannya, dan dia akan menjadi matahariku. Namun, dunia ini kejam. Jenderal Zhao Yun dijodohkan dengan putri Kaisar, demi memperkuat kekuasaan. Dia datang kepadaku, malam sebelum pernikahannya. Wajahnya pucat, tangannya gemetar saat menggenggam tanganku. "Mei Hua… maafkan aku. Aku tidak bisa melanggar titah Kaisar. Ini untuk kedamaian negeri," bisiknya, suaranya bergetar. Air mataku membeku di pipi. *KEDAMAIAN?* Bagaimana dengan kedamaian hatiku yang hancur berkeping-keping? "Pergilah, Jenderal," kataku dingin, menahan semua raung kesakitan yang mendidih di dadaku. Dia pergi. Menikah. Menjadi pahlawan sejati di mata semua orang. Kecuali aku. Di mataku, dia hanya seorang pengkhianat. Pengkhianat cinta sejati. Bertahun-tahun berlalu. Aku menjadi tabib yang disegani, mengobati luka fisik, namun tidak pernah bisa menyembuhkan luka di hatiku. Jenderal Zhao Yun menjadi legenda, namanya dielu-elukan di setiap penjuru negeri. Namun, di Pagoda Bulan, hanya aku yang tahu rahasia tergelapnya: dia mencintaiku, lebih dari yang dia cintai kekuasaan. Suatu malam, badai dahsyat menerjang. Aku mendengar kabar: Putri Kaisar sakit parah. Semua tabib istana angkat tangan. Jenderal Zhao Yun datang mencariku, memohon. "Mei Hua, tolong selamatkan istriku. Aku mohon," suaranya penuh keputusasaan. Aku menatap matanya, melihat kepedihan yang sama yang pernah kurasakan bertahun-tahun lalu. Aku mengangguk. Aku akan menyembuhkan istrinya. Aku meracik obat, ramuan yang membutuhkan waktu lama dan keahlian tinggi. Putri Kaisar meminumnya. Dia membaik. Semua orang bersukacita. Kecuali aku. Karena ramuan itu, perlahan namun pasti, akan melemahkan tubuhnya. Bukan membunuhnya, hanya membuatnya rentan. Terlalu lemah untuk melahirkan seorang pewaris. Terlalu lemah untuk memberikan Jenderal Zhao Yun apa yang dia inginkan: seorang penerus. Aku telah membalas dendam. Bukan dengan darah, bukan dengan pedang, tapi dengan keheningan yang menyakitkan. Dengan takdir yang berjalan sesuai kehendaknya. Jenderal Zhao Yun akan selamanya dikenang sebagai pahlawan tanpa keturunan, legenda yang tak akan pernah bisa diteruskan. Senyum tipis bermain di bibirku. *LEGENDA?* Biarkan mereka menyebutnya legenda. Aku tahu yang sebenarnya. Cinta yang dikhianati kadang memudar menjadi dendam yang *ABADI*, bukan?
You Might Also Like: Reseller Skincare Peluang Usaha Ibu
Post a Comment