**Bayangan yang Menjadi Saksi Cinta** Aula Emas Istana Giok memantulkan cahaya rembulan, **DINGIN** dan tak kenal ampun. Di tengah kemegahan itu, Kaisar Xuan berdiri, sosoknya menjulang tinggi di atas lautan jubah sutra para pejabat yang membungkuk dalam-dalam. Tatapan tajamnya menyapu setiap wajah, mencoba membaca loyalitas di balik senyum yang dipaksakan. Intrik istana adalah permainan yang ia kuasai, tetapi malam ini, ada *bayangan* yang mengusik hatinya. Bayangan itu bernama Mei Lian. Mei Lian bukan permaisuri, bukan pula selir kesayangan. Ia hanya seorang *penari bayangan*, keberadaannya sehalus bisikan angin, gerakannya seindah mimpi. Namun, di balik keluwesan tubuhnya, tersimpan *INTELIJEN* dan *KEHALUSAN* yang mematikan. Kaisar Xuan, yang terbiasa dengan kekuasaan mutlak, mendapati dirinya *TERTARIK* pada wanita yang tampak tak berdaya itu. Cinta mereka tumbuh di antara rapatnya tirai sutra dan bisikan pengkhianatan. Pertemuan rahasia di taman terlarang, sentuhan tangan yang mencuri kesempatan di tengah keramaian, dan janji yang terucap lirih di bawah rembulan. Cinta mereka, sebuah permainan takhta yang berbahaya. Setiap ciuman adalah taruhan, setiap janji bisa menjadi pedang. "Aku akan menjagamu, Mei Lian," bisik Kaisar Xuan suatu malam, jemarinya mengusap lembut pipi Mei Lian. "Aku *AKAN* menjadikanmu Permaisuri." Mei Lian tersenyum tipis. "Kekuatan seorang permaisuri ada pada gelar, Yang Mulia. Kekuatanku ada di *TEMPAT LAIN*." Waktu berlalu. Kaisar Xuan semakin terpikat oleh Mei Lian, membutakan dirinya dari bahaya yang mengintai. Para pejabat istana, yang marah dengan pengaruh Mei Lian, mulai merencanakan pemberontakan. Mereka memanfaatkan kelemahan Kaisar, meracuni pikirannya dengan fitnah dan dusta. Pada malam bulan purnama, pengkhianatan terungkap. Kaisar Xuan, dikelilingi oleh pasukan pemberontak, melihat Mei Lian berdiri di antara mereka. Di tangannya, berkilauan belati perak yang pernah ia berikan sebagai hadiah. "Kau… mengkhianatiku?" tanya Kaisar Xuan, suaranya bergetar. Mei Lian menatapnya dengan tatapan yang dingin dan tanpa penyesalan. "Kau salah, Yang Mulia. Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya menggunakanmu." **_BALAS DENDAM_** yang selama ini dipendam Mei Lian akhirnya menemukan jalannya. Ayahnya, seorang jenderal besar yang difitnah dan dibunuh oleh Kaisar Xuan bertahun-tahun lalu, telah memberinya satu tujuan: *MENYERET KAISAR KE JURANG KEHANCURAN*. Setiap tarian, setiap senyuman, setiap bisikan cinta hanyalah *TOPENG*. Dengan elegan dan dingin, Mei Lian memberikan perintah. Kaisar Xuan, yang terbiasa memberikan perintah, kini hanya bisa pasrah saat pedang menghunus jantungnya. Mei Lian berdiri di atas tangga singgasana yang berlumuran darah, tatapannya menyapu aula yang hening. Ia, penari bayangan yang dulunya dianggap lemah, kini adalah *PENGUASA* Istana Giok. Lalu, ia berbisik, "Mari kita lihat bagaimana istana ini akan mengingat seorang permaisuri yang *BARU*."
You Might Also Like: Mimpi Dikejar Biawak Ternyata Ini
Post a Comment