Ini Baru Cerita! Cinta Yang Mati Tapi Tak Pernah Hilang

**Cinta yang Mati Tapi Tak Pernah Hilang** Di antara kabut *abadi* Bukit Rembulan, terlukis sebuah kisah yang lebih pudar dari sutra usang. Aku, seorang pelukis bayangan, tersesat di labirin mimpi. Di sana, hadir **Xiao Wei**, seorang dewi bergaun salju, matanya bagai danau berkilau ditimpa cahaya fajar. Pertemuan kami adalah bisikan angin pada kelopak bunga plum. Aku melukisnya, setiap goresan kuas adalah debaran jantung yang bergejolak. Senyumnya adalah mentari pagi yang menghangatkan jiwaku yang beku. Namun, Xiao Wei hanyalah ilusi, serpihan memori yang menjelma rindu. Ia hadir dalam lukisanku, berdansa di antara tetesan cat dan mimpi. Setiap malam, aku terjaga dalam mimpi. Kami berjalan di taman bunga persik yang tak pernah layu, berbagi rahasia yang hanya bisa diucapkan dalam hati. Ia bercerita tentang bintang yang jatuh dan berubah menjadi air mata, tentang naga yang kehilangan sisiknya karena cinta. Aku mendengarkan, terpesona oleh keindahan dan kesedihan yang terpancar dari dirinya. Waktu adalah debu di antara jari-jariku. Aku tak tahu berapa lama aku tenggelam dalam dunia lukisan ini. Aku tak tahu apakah Xiao Wei nyata, atau hanya *fantasi* yang kubuat untuk mengisi kekosongan jiwa. Yang kutahu, tanpa dirinya, duniaku hanyalah kanvas kosong yang sunyi. Suatu malam, bulan purnama menyorot tajam ke arah lukisan Xiao Wei. Tiba-tiba, lukisan itu *bergetar*. Cat-cat itu menari, membentuk pusaran yang semakin lama semakin besar. Aku terpaku, tak bisa bergerak, seolah akar-akar pohon mengikat kakiku ke tanah. Dari dalam pusaran cat, Xiao Wei muncul! Ia berdiri di hadapanku, nyata dan menakjubkan. Namun, ada yang berbeda. Matanya yang dulu berkilau, kini redup dan sayu. Senyumnya yang dulu menghangatkan, kini hanya sisa-sisa kepedihan. "Apakah kamu tahu mengapa aku terjebak di dalam lukisanmu?" bisiknya, suaranya serak seperti gesekan sayap kupu-kupu malam. "Aku adalah lukisanmu yang hilang, yang kau buang karena merasa tidak sempurna... **AKU ADALAH DIRIMU!**" Rasa sakit menusuk jantungku. Keindahan ini, *kenyataan* ini, justru adalah cermin yang memantulkan luka tergelap dalam diriku. Xiao Wei, dewi yang kurindukan, hanyalah representasi dari bagian diriku yang kucampakkan, ketidaksempurnaan yang kubenci. Ia perlahan memudar, kembali menjadi tetesan cat yang meresap ke dalam kanvas. Aku ditinggalkan sendiri, dalam sunyi dan penyesalan. Lukisan Xiao Wei kini tampak berbeda. Ia bukan lagi tentang cinta dan keindahan, melainkan tentang penerimaan diri dan luka yang tak mungkin sembuh. Dan kemudian, aku mendengar bisikan dari masa lalu, "Jangan lupakan aku... aku selalu bersamamu..."
You Might Also Like: 46 Tutorial Pembersih Wajah Centella

Post a Comment