Cerpen Seru: Air Mata Yang Menemani Senja Terakhir

Air Mata yang Menemani Senja Terakhir

Malam merayap seperti racun, menyelimuti seluruh lembah dengan kegelapan abadi. Udara dingin menusuk tulang, seolah roh-roh penasaran menggigil di sekeliling. Di puncak kuil tua yang rapuh, berdiri Mei Hua, siluetnya tercetak jelas di langit senja berdarah. Di tangannya, tergenggam erat liontin giok berbentuk naga – satu-satunya saksi bisu cintanya yang ternoda.

Di bawahnya, di tengah hamparan salju yang ternoda merah, berlutut Li Wei. Wajahnya yang dulu tampan kini dipenuhi luka dan debu, matanya memancarkan kepedihan yang tak terhingga. Dupa terbakar di sekelilingnya, asapnya mengepul membentuk pusaran misterius, seolah membawa doa-doa yang tak terjawab ke langit.

"Mei Hua…" suara Li Wei tercekat, nyaris tak terdengar di tengah desiran angin. "Aku… aku bersumpah… aku tidak pernah mengkhianatimu."

Mei Hua menertawakan dengan getir. Suaranya bagaikan pecahan kaca yang menghujam jantung. "Pengkhianatan? Itu terlalu halus untuk menggambarkan apa yang telah kau lakukan, Li Wei! Kau merenggut segalanya dariku!"

Kilatan pedang di tangannya memantulkan cahaya terakhir matahari. Salju di sekelilingnya tampak semakin merah, semakin menggenaskan. Ingatan pahit berputar di benaknya: malam bulan purnama ketika ia menyerahkan hatinya pada Li Wei, janji suci di bawah pohon sakura yang kini telah mati. Semua itu palsu. Kebohongan.

Rahasia kelam itu akhirnya terkuak. Surat wasiat ayahnya, yang selama ini disembunyikan Li Wei, mengungkap kebenaran mengerikan: Li Wei adalah putra dari musuh bebuyutan keluarganya, orang yang bertanggung jawab atas kematian seluruh klannya. Cinta mereka dibangun di atas fondasi darah dan dendam.

"Kau… kau tahu?" Li Wei mendongak, matanya membelalak tak percaya.

Mei Hua mengangguk, air mata mengalir di pipinya bagaikan sungai es. "Aku tahu sejak lama. Setiap senyummu, setiap sentuhanmu… semuanya adalah racun yang perlahan membunuhku."

Janji di Atas Abu. Itulah yang terucap dari bibir Li Wei ketika ia menemukan rahasia Mei Hua, sebuah rencana balas dendam yang telah disusun bertahun-tahun. Ia berniat membunuh semua orang yang bertanggung jawab atas kehancuran keluarganya, termasuk dirinya sendiri. Tapi cinta… cinta itu rumit. Ia mencintai Mei Hua lebih dari nyawanya sendiri.

"Aku… aku ingin melindungimu," bisik Li Wei, darah segar menetes dari sudut bibirnya. "Aku tidak ingin kau terlibat dalam dendam ini."

Mei Hua tersenyum sinis. "Terlalu terlambat, Li Wei. Aku sudah terlalu lama terperangkap dalam dendam ini. Dendam inilah yang membuatku tetap hidup."

Dengan gerakan cepat, Mei Hua mengayunkan pedangnya. Bukan ke arah Li Wei, melainkan ke arah dirinya sendiri. Pedang itu menembus jantungnya, darah memuncrat membasahi salju.

Li Wei menjerit pilu. Ia merangkak menghampiri Mei Hua, memeluk tubuhnya yang semakin dingin.

"Kenapa… kenapa kau melakukan ini?"

Mei Hua tersenyum lemah. "Karena… balas dendam sejati adalah… membiarkanmu hidup… dengan rasa bersalah ini."

Napas terakhir Mei Hua terhembus bersamaan dengan rontoknya kelopak bunga sakura. Li Wei memeluk erat tubuhnya, meratapi cintanya yang telah hancur.

Beberapa saat kemudian, Li Wei bangkit. Matanya dingin, kosong. Ia mengambil pedang Mei Hua, menghunuskan ke dadanya sendiri.

Balas Dendam yang Tenang Namun Mematikan.

Dua jasad terbaring berdampingan di atas salju, terbungkus dalam heningnya malam. Di kejauhan, lolongan serigala terdengar memilukan.

Tapi… apakah kematian benar-benar akhir dari segalanya?

Kutukan mereka akan terus hidup, menari di antara generasi yang akan datang.

You Might Also Like: Cerpen Keren Di Antara Seribu Lampion

OlderNewest

Post a Comment