Kau Mencintaiku Lagi, Tapi Aku Sudah Tak Punya Hati
Aula EMAS istana berkilauan, memantulkan cahaya ribuan lilin. Namun, kehangatan itu tak sampai ke hati Selir Yu. Di sekelilingnya, para pejabat istana memasang wajah datar, mata mereka bak elang mengawasi gerak-geriknya. Bisikan-bisikan pengkhianatan merayapi balik tirai sutra, menciptakan suasana yang lebih mencekam daripada malam tanpa bintang.
Lima tahun lalu, Kaisar Li Wei memberinya janji abadi. Dia, seorang putri dari kerajaan kecil yang tak berdaya, akan menjadi ratunya, cinta sejatinya. Namun, janji itu hanyalah alat untuk mengamankan kekuasaan. Setelah kerajaannya ditaklukkan, dia dicampakkan, dilupakan, dan digantikan oleh selir-selir lain yang lebih berkuasa.
Sekarang, Kaisar Li Wei kembali menatapnya dengan tatapan yang dulu membuatnya mabuk kepayang. Tatapan penuh penyesalan, penuh kerinduan. "Yu'er, aku salah. Aku merindukanmu. Kembalilah padaku."
Selir Yu tersenyum tipis, sebuah seringai dingin yang tak lagi mengandung kehangatan. "Yang Mulia terlambat. Hatiku sudah mati sejak hari kerajaan saya jatuh."
Cinta mereka telah menjadi permainan takhta. Setiap janji adalah pedang, setiap kata adalah racun. Dulu, dia rela mati untuk Kaisar. Sekarang, dia hanya ingin melihatnya menderita.
Perlahan, Selir Yu mulai menanjak. Kecantikannya, kecerdasannya, dan yang terpenting, pengetahuannya tentang rahasia-rahasia istana, menjadi senjatanya. Dia mengumpulkan sekutu, menyingkirkan musuh, dan perlahan tapi pasti, meruntuhkan kekaisaran dari dalam. Kaisar Li Wei menyaksikan dengan ngeri, cinta yang dulu ditolaknya sekarang menjadi penghancurnya.
Di malam penobatan dirinya sebagai Maharani, Selir Yu berdiri di balkon istana, menatap hamparan wilayah yang dulu merenggut nyawa keluarganya. Kaisar Li Wei berlutut di hadapannya, memohon ampun.
"Yu'er, kumohon...ampuni aku."
Selir Yu mendekat, membisikkan sebuah rahasia di telinga Kaisar. Rahasia yang akan menghantuinya selamanya. Rahasia yang membuatnya sadar, bahwa setiap langkahnya selama ini, telah direncanakan dengan sempurna.
Lalu, dengan anggun, Selir Yu menjatuhkan cangkir teh yang ada di tangannya. PECAH!
"Bawa dia," titahnya dingin.
Kaisar dibawa pergi, meninggalkan Selir Yu sendirian di balkon, menatap bintang-bintang. Balas dendamnya telah selesai. Dia telah merebut kekuasaan, membalaskan dendam keluarganya, dan membuktikan bahwa seorang wanita yang diremehkan bisa menjadi kekuatan yang tak terhentikan.
Namun, saat seorang kasim mendekat, membisikkan nama seorang jenderal yang baru saja kembali dari perbatasan, mata Maharani Yu berkilat. Sebuah senyum tipis menghiasi bibirnya.
Permainan baru saja dimulai, dan bidaknya telah tiba.
You Might Also Like: Detroit Red Wings Blank Nashville
Post a Comment