Cerpen: Cinta Yang Menghapus Nama Dewa


Senja di Paviliun Anggrek.

Hembusan angin membawa aroma bunga plum yang pahit. Jari-jemariku menari di atas senar guqin, melahirkan nada-nada yang melankolis, seolah mewakili hatiku yang remuk redam. Di hadapanku, danau berkilauan memantulkan wajahku yang pucat, nyaris tak dikenali.

Dulu, aku adalah Lan Weiyang, putri kesayangan Kaisar, tunangan Pangeran Mahkota Li Jun. Sekarang? Aku hanyalah Weiyang, seorang wanita yang terhapus dari sejarah.

Lima tahun lalu, Li Jun berkhianat. Ia merebut takhta dengan cara keji, menuduhku berkhianat dan bekerja sama dengan musuh. Pengkhianatan itu begitu menyakitkan hingga rasanya jantungku dicabik-cabik. Aku memilih diam. Bukan karena aku lemah. Bukan karena aku takut. Aku menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang akan mengguncang seluruh dinasti.

Rahasia tentang asal usulku.

Aku bukanlah putri kandung Kaisar. Aku adalah keturunan Dewi Bulan, pembawa takdir yang dapat menentukan naik turunnya dinasti. Jika rahasia ini terungkap, Li Jun akan semakin bernafsu membunuhku, atau lebih buruk lagi, menjadikanku alat untuk mencapai kekuasaan abadi.

Setiap malam, aku bermimpi tentang gelang giok putih yang selalu kupakai sejak kecil. Gelang itu berdenyut hangat saat aku memejamkan mata, seolah memberiku petunjuk. Aku tahu, gelang ini adalah kunci. Kunci untuk memulihkan kehormatanku, kunci untuk membalas dendam tanpa menodai tanganku dengan darah.

Selama lima tahun, aku tinggal di paviliun terpencil ini, dilupakan oleh dunia. Hanya Bibi Hua, pelayanku yang setia, yang menemaniku. Ia tahu segalanya. Ia tahu tentang tangisanku di malam sunyi, tentang harapan yang masih menyala redup di hatiku.

Misteri kecil mulai bermunculan. Kiriman anonim berisi kain sutra putih dengan sulaman bunga teratai yang aneh. Surat-surat tanpa nama berisi puisi kuno yang mengisyaratkan ramalan tentang kejatuhan seorang raja. Siapa yang mengirim semua ini? Apakah ini jebakan? Atau sebuah pertolongan?

Suatu malam, saat rembulan bersinar penuh, gelang giokku bersinar terang benderang. Aku merasakan tarikan yang kuat, seolah gelang itu membawaku ke masa lalu, ke ingatan yang terkubur dalam. Aku melihat diriku yang lain, seorang wanita berpakaian dewi, berdiri di atas altar kuno. Aku mendengar suara yang bergema, "Ketika bulan purnama menyinari gelangmu, takdirmu akan terungkap."

Saat itulah aku menyadari. Bukan Li Jun yang merebut takhtaku. Takdir telah menyiapkan jalan ini untukku. Gelang giok ini adalah artefak Dewi Bulan, artefak yang dapat memanipulasi takdir.

Aku tersenyum pahit. Balas dendamku bukan dengan pedang dan darah. Balas dendamku adalah dengan mengubah takdir.

Aku memejamkan mata, memfokuskan seluruh energi ke dalam gelang giok itu. Aku melihat masa depan Li Jun, masa depan yang kelam dan penuh penyesalan. Aku tidak mengubah takdirnya secara langsung. Aku hanya mempercepat prosesnya, membiarkan karma bekerja dengan sendirinya.

Beberapa bulan kemudian, kudengar kabar bahwa Li Jun jatuh sakit parah. Tabib istana tidak dapat mendiagnosis penyakitnya. Kekaisaran dilanda kekacauan. Rakyat mulai meragukan kemampuannya sebagai seorang raja.

Aku tahu, gelang giok telah bekerja. Takdir berbalik arah. Li Jun menuai apa yang telah ia tabur.

Aku berdiri di tepi danau, menatap langit yang mulai memerah. Senja kali ini terasa berbeda. Ada kedamaian yang aneh di hatiku. Aku tidak menyesal. Aku hanya… lelah.

Bibi Hua datang menghampiriku, membawakan teh hangat. Ia menatapku dengan tatapan penuh kasih. "Nona," bisiknya, "apakah ini akhir dari segalanya?"

Aku tersenyum tipis. "Tidak, Bibi Hua. Ini hanyalah awal dari…"

…babak baru.

You Might Also Like: 199 Diversity Acceleration Plan Report

OlderNewest

Post a Comment